1. Tidak Perlu Merasa Malu atau Rendah Diri
Banyak
orang berpikir bahwa cinta bertepuk sebelah tangan itu malu-maluin.
Cowok aja malu, apalagi kalau cewek yang ngalamin. Duh, amit-amit deh!
Jangan sampe kejadian. Atau, kalau pun harus kejadian, sebisa mungkin ga
usah sampe ketahuan, lah. Ga worth it banget! Mau ditaruh di mana harga diri kita? Kuat, dengerin omongan orang? Selain malu, sakitnya itu loh, ga ketulungan!
Wait, wait!
Siapa bilang cinta bertepuk sebelah tangan itu malu-maluin dan
kehilangan harga diri? Siapa bilang kalau kita ditolak, itu berarti kita
ga laku or ga qualified? Bukannya cinta Tuhan kepada manusia itu cinta yang juga bertepuk sebelah tangan? Bukankah kita seringkali menolak cinta Tuhan? Nah, apa kita masih mau bilang kalau Tuhan itu ga qualified?
Atau bahwa Tuhan itu ga tau malu, cinta udah ditolak tapi ga
nyerah-nyerah? Ga punya harga diri, berkorban habis-habisan dengan
memberikan nyawa tapi tetap dihina dan ga dihargain manusia? Berani kita
bilang, "Itu mukanya Tuhan mau ditaruh dimana, ya?"
Aneh
tapi nyata. Kalau mau dipikir secara logika, kenapa juga ya Tuhan cinta
sama manusia? Apa sih bagusnya yang namanya manusia itu? Notabene,
manusia itu kan lemah banget, gak ada apa-apanya dibandingkan dengan
Tuhan Yang Maha Kuasa. Udahlah ga bisa apa-apa, sok jagoan dan berkuasa
pula! Menganggap diri bisa hidup tanpa Tuhan, suka berbuat seenak jidat,
bikin dosa yang menyakitkan hati Tuhan, dan banyak lagi
kelakuan-kelakuan menyebalkan lainnya. Siapa yang bodoh di sini? Tuhan?
Ataukah Manusia?
Mungkin bisa juga
diilustrasikan begini, ada seorang pangeran, ganteng, kaya raya, dan
baik hati naksir sama seorang wanita miskin dari desa. Too good to be true? Well,
bukankah cinta memang penuh dengan kejutan? Tidak berhenti sampai di
situ, wanita miskin dari desa itu ternyata menolak cinta sang pangeran! WHAT?
Ya, dia gak mau sama sang pangeran, maunya sama preman jalanan yang
kasar, gak punya kerjaan selain malakin orang, dan serba gak jelas
segala-galanya.
Nah, apakah karena sang pangeran yang ganteng dan baik hati itu ditolak cintanya, maka dia dapat kita katakan sebagai tidak qualified? Apakah ketika dia mencintai seorang wanita yang tidak mencintai dia, itu menjadi suatu hal yang memalukan?
Jawabnya: Belum tentu.
Cinta memang tidak dapat dipaksakan. Tuhan saja tidak dapat memaksakan manusia untuk mencintaiNya. Namun yang jelas, mencintai seseorang itu bukanlah hal yang memalukan.
2. Terimalah Kenyataan
Sikap
seseorang terhadap kita kadang bisa membuat kita jadi bertanya-tanya,
mengapa selama ini dia begitu baik dan perhatian kepada kita? Kita
berpikir bahwa perhatiannya itu adalah tanda bahwa dia suka dengan kita.
Pada kenyataannya, perhatian tidaklah selalu adalah bukti bahwa seseorang menyukai kita lebih dari sekadar teman.
Bisa jadi, dia memang begitu kepada semua orang, termasuk kepada lawan
jenis. Nah, coba buka mata lebar-lebar dan perhatikan: bagaimana sikap
dia terhadap teman-teman lainnya?
Ada lagi orang yang memang PDKT dengan kita. Dia chat
kita setiap hari, telpon berjam-jam, dan kadang ngajak pergi berdua.
Wah, perhatian banget deh. Awalnya mungkin kita risih atau sebal, tetapi
lama-lama kita jadi jatuh hati. Giliran kita sudah jatuh hati, eh dia
malah menghilang begitu saja. Pahitnya lagi, ternyata dia jadian dengan orang lain. Duh, sedih gak sih?! Well, girls, sadarilah bahwa perasaan seseorang itu mudah berubah,
apalagi jika masih dalam tahap PDKT. Seorang pria bisa PDKT dengan
beberapa wanita sekaligus. Jadi kalau dia perhatian, ngajak pergi
bareng, dan sebagainya, bisa jadi itu dilakukan juga secara simultan ke
beberapa wanita.
Ini pelajaran yang amat penting: anggaplah semuanya sebagai teman sebelum ada komitmen. Jangan biarkan perasaan kita berkembang terlalu jauh.
Bagaimana
jika kita pada akhirnya mencintai sahabat kita sendiri? Awalnya sih ga
ada perasaan, murni persahabatan, tetapi lama-kelamaan, timbullah
percikan api cinta itu. Sayangnya itu hanyalah perasaan kita semata. Dia
benar-benar hanya menganggap kita sebagai sahabat, tidak lebih. Pahit?
Tentu.
Jika kita menyukai seseorang
dan orang yang kita sukai tidak mengetahui perasaan kita, ada baiknya
kita beri tahu. Tidak mengapa jika nanti dia menolaknya; setidaknya dia
sudah tahu. Memendam sebuah perasaan cinta bertahun-tahun dan terus
menebak-nebak apakah dia memiliki perasaan yang sama hanya akan menyiksa
dirimu. Sampaikanlah perasaanmu, biarkan dia tahu. Jika dia menolak,
terimalah kenyataan itu. Kita menang ketika berani mengungkapkan perasaan, tidak peduli diterima atau ditolak pada akhirnya.
Sepahit apapun sebuah kenyataan, tetaplah lebih baik daripada ilusi.
Untuk apa kita merasakan kebahagiaan semu dengan terus berasumsi bahwa
dia memiliki perasaan yang sama dengan kita, padahal tidak. Suatu hari,
ketika dia jadian dengan orang lain, kenyataan itu akan menampar kita,
dan rasanya pasti akan lebih sakit. Bangunlah dari mimpi dan harapan
yang kandas, terimalah kenyataan ini!

3. Move On
Jika
dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan kita, maka tidak ada
gunanya kita terus memendam perasaan bahkan memupuknya. Coba kita pikir,
mau sampai kapan kita bertahan dengan semua perasaan ini? Apa sampai
kita terima undangan nikah dari dia? Well, itu akan jauh lebih menyakitkan loh.
Mungkin
saat ini kita berpikir bahwa tidak akan ada lagi pria atau wanita yang
sebaik dia. Ya, memang semua orang diciptakan unik sih. Jadi sudah pasti
tidak akan pernah lagi kita jumpai kembarannya di bumi ini. Anak kembar
pun memiliki perbedaan karakter, bukan? Akan tetapi, percayalah bahwa
kelak akan ada pria atau wanita yang mencintai kita apa adanya. Yang
perlu kita lakukan hanyalah membuka hati dan pikiran.
Ingatlah bahwa waktu akan berjalan dengan cepat. Tanpa terasa, kita akhirnya akan menjadi tua. Jika terus menggenggam masa lalu, kita bisa jadi tidak akan sadar, bahkan ketika cinta sejati ada di depan mata. Jika itu terjadi, bisa-bisa kita sendirilah yang menolak cinta sejati yang Tuhan kirimkan untuk kita. Rugi, kan? Penyesalan akan selalu datang terlambat. Jangan sampai itu terjadi.
Biarkan masa lalu menjadi masa lalu. Ketika esok matahari bersinar, bukalah hatimu pada cinta yang baru.

4. Percaya Diri dan kembangkan diri
Ketika
cinta bertepuk sebelah tangan, mungkin ada teman-teman kita yang
bilang, “Kamu sih begini ... begitu ... makanya dia ga mau!” Mungkin
kita akan dihujami dengan rentetan kesalahan atau kekurangan diri yang
membuat kita makin merasa minder, “Iya ya, mana ada yang mau sama aku. ”
Kawan,
mana ada manusia yang sempurna di dunia ini? Terimalah diri kita
sebagai manusia yang unik dan berharga. Percayalah, bahwa dibalik segala
kelemahan kita terdapat pula segudang kelebihan. Setiap pribadi itu
istimewa, tidak ada duanya di dunia ini. Jika kita tidak dapat menghargai diri kita sendiri, bagaimana mungkin orang lain dapat menghargainya?
Jika kita terus-terusan minder, bagaimana caranya orang dapat suka
dengan kita? Daripada fokus dengan kelemahan dan kekurangan kita, mengapa kita tidak fokus dengan kelebihan kita? Kembangkan itu!
Ubahlah apa yang dapat kita ubah, dan terimalah apa yang tidak dapat kita ubah.
Kita
dapat belajar bagaimana berpakaian yang dapat membuat kita tampil lebih
menarik, bagaimana berkomunikasi dengan lawan jenis, bagaimana bersikap
di depan umum, dan sebagainya; hal-hal yang dapat kita ubah dan
perbaiki. Namun demikian, ada juga banyak hal yang juga tak dapat, atau
setidaknya sulit untuk kita ubah, seperti latar belakang keluarga,
wajah, warna kulit, misalnya. Terimalah itu sebagai pemberian dari
Tuhan, bahkan jika itu kita pandang sebagai buruk di mata kita. Percayalah bahwa sesuatu yang buruk sekalipun dapat Tuhan pakai untuk menjadi kebaikan bagi kita dan sesama. Hanya saja, kita belum dapat melihatnya saat ini.
Percayalah bahwa suatu kelemahan yang tidak dapat kita ubah adalah sarana yang Tuhan pakai untuk menunjukan cinta sejati. Benar, suatu saat kita akan menemukan ada orang yang dapat menerima masa lalu ataupun segala kekurangan kita, karena dia dapat melihat keindahan melampaui hal-hal yang kita pandang buruk itu.
Sebagai manusia, seringkali kita mencintai seseorang karena dia loveable.
Mungkin karena kecantikan atau ketampanannya, kemapanan, kelembutan,
kebaikannya, dan lain sebagainya. Artinya, pasti kita menyukai sesuatu
yang bagus-bagus lah, iya ga? Cinta seperti itu tidak salah, dan wajar
banget malah. Namun, saking wajarnya, kita tidak lagi menganggap hal itu sebagai hal yang luar biasa.
Lah, kalau ada banyak cewek yang suka sama Nicholas Saputra atau Song
Joong Ki, itu mah ga heran! Atau cowok yang suka dengan Gal Gadot, Dian
Sastro, Pevita Pearce, itu mah normal-normal aja! Tetapi banyak orang
akan jadi bingung dan ga habis pikir, saat mendengar kesaksian seorang
wanita yang tidak tinggi, tidak cantik, secara fisik bisa disebut
'abnormal', dan juga tidak kaya, tetapi dicintai dan dinikahi oleh
seorang pria normal. Kita yang denger aja bingung, apalagi yang
mengalami. Wanita itu sendiri tidak percaya bahwa ada pria yang mau
mencintai dan menikahi dia, "Hah? Naksir gua? Naksir apanyaaa???!!!"
Saya yang mendengar kesaksian pasangan itu di di gereja juga ikutan
bingung, "Iya ya, suaminya naksir dia karena apanya?"
Percaya atau tidak, itulah keagungan sebuah cinta. Ketika cinta mampu mencintai seseorang yang tidak layak untuk dicintai. Ketika cinta dapat menerima kekurangan seseorang dan memilih untuk tetap berada di sisi orang yang kita cintai, yang penuh dengan kekurangan itu.
Saya
jadi berpikir, mengapakah Tuhan mengizinkan adanya kelemahan dan
kekurangan pada setiap manusia? Mungkin agar kita tidak jadi sombong,
menyadari bahwa sesungguhnya diri kita ini tidak sempurna. Dan, oleh
karena itu, sebagaimana kita berharap orang lain mau menerima kekurangan
kita, kita pun akan belajar untuk menerima kekurangan orang lain.
Ketika kita mampu menerima kekurangan orang lain, itulah bukti dari
cinta. Cinta menutupi segala sesuatu.
Cinta
akan memampukan kita memandang pasangan kita 'sempurna', meski kita
tahu bahwa dia tidaklah sempurna. Seperti bintang yang baru akan nampak
bersinar dalam kegelapan pekat malam, demikianlah cinta yang menutupi
dan menerima semua kelemahan.
sumber: ributrukun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar